Posted by: dheelicioso on: September 8, 2008
guys.. please, read my blog from the eldest post to the newest post.. ok :)
coz, it’s a story..
and undone yet
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Daniish??”
Daniish tercekat. Otaknya dengan cepat melakukan retrieval dari kode suara baritone yang baru saja memanggil namanya. Perlahan ia berbalik dan ia merasakan seperti ada sebuah sengatan listrik voltase rendah di hatinya. Jantungnya seakan mencelos turun ke perut.
“Re…”
Ada kesakitan tersendiri ketika menyebut nama itu buat Daniish. Kesakitan karena meninggalkan, kesakitan karena sampai detik ini nama itu tidak pernah beranjak sedikitpun dari pikiran dan perasaannya.
“Long time no__”
Ferre tiba-tiba memeluknya dengan erat dan Daniish merasakan sengatan listrik lagi di hatinya. Bukan yang membuat jantungnya mencelos turun, tapi kali ini membuat kedua tangannya balik merengkuh tubuh yang telah dilepaskannya sejak 1 tahun lalu itu. Menggerakkan otot-otot kelenjar air matanya untuk berkontraksi lebih cepat, membuatnya memanas dan berair. Tapi sebelum sebulir jatuh di pipi, ternyata otaknya berespon lebih cepat, membuat sentakan lembut yang membuat pelukan itu akhirnya mengendur.
“We’re not supposed to…”
Ferre seakan-akan tidak mendengar kata-kata Daniish dan terus menatap wajahnya sambil tersenyum tak henti.
Tuhaaan, tolong ambil senyum itu buatku, atau jangan pernah perlihatkan lagi!
“Daniish… aku mencarimu kemana-mana”
“Aku… “
“Yes you did… kamu meninggalkan aku. Dan sampai saat ini aku ga tau kenapa”.
“Aku…”
—————————
“Dan?”
BAGUS!, maki Daniish dalam hati. Kenapa Orchard ga lebih lama aja di makam Evelyn dan terus membacakan doa-doa yang lebih panjang lagi agar arwah temannya itu tenang di alam baka. Dan bukan malah menghancurkan scene pertemuan-Daniish-Ferre-setelah-2tahun-tak-bersua ini.
“Orchard ini Ferre, Ferre ini Orchard sepupuku”
“Hai”
Ferre menyalami Orchard yang tampak bengong dengan tampang oh-ini-yang-namanya-Ferre-yang-selama-ini-jadi-topik-abadinya-Daniish.
Orchard masih sibuk meneliti makhluk ‘macho’ (di pandangan Orchard) yang berdiri di depannya itu.
Sepupu gue emang salah besar udah ninggalin dia. Dengan alasan yang ga jelas pula! Sakit jiwa tuh si Daniish.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Orchard… emangnya nih orang, ups.. I mean, almarhum ini seberapa deket sih sama lo, sampe bela-belain buru-buru dateng dari Bali buat ngadirin pemakamannya yang… umm… kayanya udah selese tuh”, tunjuk Daniish ke area pemakaman.
Orchard mengikuti arah telunjuk Daniish. Bener, udah sepi.
“Eh, masih ada tuh, Dan. Turun yuk…”
“Gue harus turun juga nih?”
“Iyalah! Temenin gue. Gue ga pengen mengalami pengalaman mistis sendirian”
Daniish menggerutu pelan. Nih anak ga cowok banget sih! Tapi akhirnya ikutan turun juga sambil memperbaiki letak selendang hitam yang miring-miring di kepalanya.
Hawa dingin yang berbeda menerpanya saat keluar dari mobil. Hhhh… Bandung tercinta, I’m back. Cuaca yang sedikit mendung membuat rasa kangen Daniish akan kota ini terobati. Yang kayak gini emang Bandung banget. Bentar lagi hujan nih. Jadi inget deh dulu waktu ujan-ujanan bareng…
Daniish tersentak.
Ia mengulangi lagi kalimat terakhir lamunannya yang belum selesai dalam hati.
Jadi-inget-dulu-ujan-ujanan-bareng……… Ferre.
Bangsat! Ngapain juga mau-maunya ikut Orchard balik ke Bandung?! :keluh: Tapi kan ada grand opening Big-O café cabang Bandung, jadi pasti harus ke Bandung dong! Masa ke Medan??
“Sore, Tante”
Orchard terdengar menyapa seseorang.
Daniish tersadar. Udah nyampe!!
Wanita bermata teduh itu langsung memeluk Orchard dan terisak.
“Tante, saya turut berduka cita atas meninggalnya Evelyn. Saya dapat kabarnya kemarin”
“Orchard kemana saja? Sudah lama sekali Tante ga ketemu kamu”, tanya wanita itu setelah berhasil menguasai tangisnya dan… rela melepaskan Orchard dari pelukannya.
“Saya kerja di Bali, Tante. Oh iya, ini sepupu saya. Dia tinggal di Bali juga sama saya”
Daniish tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Saya Daniish, Tante”
Wanita, yang ternyata adalah ibunya temen Orchard bernama Evelyn itu menjabat tangan Daniish erat lalu mencium pipi kanan dan kirinya, terasa sangat bersahabat.
“Waduh, Daniish sampai jauh-jauh juga datang ke sini”
“Ga apa-apa, Tante”
“Ke rumah dulu yuk. Ada kakaknya Evelyn juga baru pulang dari Kalimantan. Yuk… Pasti cape banget ya baru nyampe dari Bali”
“Wah, ga usah, Tante. Makasih banget… Tapi kita mesti buru-buru juga nih. Jadi sebenarnya kita ke Bandung juga ada urusan bisnis. Big-O café yang saya kelola di Bali mau buka cabang di Bandung ini”
“Oh ya?”
“Iya, Tante. Sabtu ini grand openingnya, jadi mesti beres-beres, persiapan-persiapan dan lain-lainny. Kalo sempat Tante datang ya ke grand openingnya. Kalo ga sempat, ya ntar-ntar kalo mau ngopi-ngopi atau arisan mungkin sama temen-temen, datang ke café aja”
“Waah… Orchard pinter banget bisnisnya ya”
Daniish melihat lobang hidung Orchard sudah kembang kempis kayak gunung berapi dengan status siaga 4, sebentar lagi mau meletus.
“Ah, biasa aja, Tante. Baru coba-coba. Mudah-mudahan bisa lancar”.
“Iya, tante doain lancar semua ya. Kalo gitu Tante duluan deh ya, Orchard, Daniish… Dateng ke rumah ya. Telpon dulu aja, kalo ga di rumah yang lama di Sukapada itu, ya Orchard tau kan ya… kalo ga mungkin Tante lagi di rumah yang di Manikaca”
Manikaca?
Itu kan daerah rumahnya………….
“Iya deh, Tante. Nanti gampang lah, biar saya telpon dulu aja”
“Yaudah, Tante duluan ya”
Daniish mengangguk sambil tersenyum. Ga tau deh senyumnya terlihat macam apa, karena di pikirannya dari beberapa detik yang lalu adalah kata itu, Manikaca…
“Orchard… Itu… Manikaca…”
“Dan, gue berdoa dulu bentar buat Evelyn, abis itu kita cabut. Okay… Ssstt… diam ya”
————————————-
“Oh, Shit!”
Ferre menghentikan mobilnya, mendadak.
Ia merogoh sakunya. Ga ada!
Ia lalu mengacak-acak dashboard, mengubek-ngubek kotak penyimpanan kaset, mengaduk-aduk tasnya. Nihil!
“Aaargh… dimana?!!”, geramnya, kesal.
Benda itu… dimana ya??
———————————–
“Orchaaard… lo ngedoain dia apa aja sih? Lama banget!!”
“Pssst…!”
Daniish monyong-monyongin Orchard di belakang punggungnya. Kalo telinga Orchard bisa dijadiin spion, pasti dia udah ngamuk-ngamuk dari tadi sambil teriakin, “LO SEPUPU DURHAKA!!” hehehehe…
————————————–
Damn!! Kenapa gue bisa lupa ya dimana naruh benda itu… Apa ga sempet kebawa dari Kalimantan? Kayanya ga mungkin deh, selama take-off gue pegang terus kok…
Ferre mulai kebingungan.
OK… akan gue runtut satu-persatu. Pas take-off gue pegang. Pas turun pesawat gue taruh di kantong jaket. Pas ngambil mobil di apartment gue taruh di dashboard. Abis itu gue ke makam…
AH… di makam!!
——————————————–
Orchard benar-benar kelewatan! Dia mau ngebacain seluruh Alkitab apa?!, omel Daniish dalam hati, memaki-maki sepupunya yang berbeda keyakinan dengannya itu.
Daniish memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Pemakaman tidak akan semengerikan saat malam hari, bukan? Tiba-tiba matanya terantuk sesuatu di dekat sebuah makam, kira-kira 5meter dari makam Evelyn.
Bola karet!
——————————————-
Hosh… hosh… Ferre berjalan tergesa menyusuri makam-makam. Mudah-mudahan masih ada di sana!, harapnya dalam hati.
Hanya itu yang gue punya…
————————————-
Daniish mengambil, lalu menatap bola itu lekat-lekat. Sepertinya ia pernah mengenal benda tersebut.
Warnanya bening…
Ada sebuah lambang di dalamnya….
—————————————-
Cuma itu yang gue punya. Hadiah terakhir dari dia. Sebuah bola karet bening dengan…
—————————————-
Lambang Liverpool, club sepakbola favorit Ferre.
—————————————-
Langkah Ferre terhenti.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Ferre berlutut di makam yang masih basah itu. Ada nama Evelyn di batu nisannya yang berbentuk salib dari batu marmer. Ia meletakkan satu buket mawar putih di samping karangan-karangan bunga lainnya yang telah dulu ada di sana.
“So… this fast, right? Aku tau kamu pasti ngambek sama aku karena aku telat datang hari ini kan? Aku… Aku selalu bikin kamu kecewa. Ga dateng di hari tunangan kamu, telat dateng di… pemakaman kamu. Maaf… Tapi aku lebih marah sama kamu. Kenapa ga pernah bilang kalau kamu sakit separah itu? Kenapa? Kamu pasti sakit banget ya?”
Ferre tertawa hambar.
“Aku bukan kakak yang baik ya buat kamu. Masa adeknya sendiri sakit aku ga pernah tau? Kayanya aku emang layak banget dapet pukulan ini dari tunangan kamu”
Ferre mengelus pipinya yang mulai berdenyut-denyut. Ia pun meringis kesakitan.
“Hhhh… Maafin aku, Ev… Semua yang terjadi sempat sedikit membuat aku lemah. And I become a bad workaholic then. Hanya untuk mengalihkan otak aku supaya ga terus-terusan bertanya berjuta-juta kali, MENGAPA? Kamu ngerti kan, Ev?”
“Dia ninggalin aku… Ga berapa lama, setelah sendirian selama hampir 7 tahun, Papa nikah lagi sama tante Sitta, Mama kamu… It was like he bertrayed my mom. Aku ga tau mesti percaya sama siapa lagi… ‘till u came in… Keputusan Mama kamu dan Papa untuk mulangin kamu ke sini ternyata membawa hari-hari baru buat aku… kamu obat dari sederetan kehilangan aku, Ev. Walaupun pada akhirnya aku lebih memilih kerjaan aku di Kalimantan then… Im so sorry…“
Ferre buru-buru menyeka sebulir air yang tiba-tiba memaksa menyembul di ujung matanya.
“Ya sudah, kamu pasti lelah sekali, kan? Rest in peace, Sist”
Ferre baru selangkah beranjak dari makam ketika di hadapannya berdiri seseorang, yang paling terakhir ingin ditemuinya hari ini.
“Tante…”
“Ferre… ternyata kamu pulang juga”
“Saya pasti datang ke pemakaman adik saya, tante”
Tante Sitta tersenyum, tampak letih. Sempat terlintas rasa kasihan melihat keadaan ibu tirinya yang baru kehilangan putri semata wayangnya itu.
“Saya tidak sempat bertanya banyak waktu tante menelpon saya tadi pagi. Kenapa tante ga pernah ngasih tau saya tentang keadaan Evelyn?”
“I wish I knew it, Ferre”
Ferre menatap wanita berusia setengah baya yang berdiri di sampingnya itu. Air matanya mulai mengalir dan ia mulai terisak-isak.
“Saya ga pernah tau Evelyn mengidap kanker. Anak itu ga pernah mengeluh sama saya. Hikss… Dia… ga pernah cerita apa-apa sama saya. Sama papanya… hikss… sama papa kamu, dia juga ga pernah cerita… hikshikss…”
“Ah ya… mana papa?”
“Sejak selesai pemakaman dia di ruang kerjanya”
“Oh great! Anaknya baru saja dikuburkan dan beliau sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya. What a good father“, ujar Ferre sinis.
“He’s not working, Ferre. He is punishing himself. Sejak kamu memutuskan untuk mengambil tawaran pekerjaan di Kalimantan dan menolak bekerja di katornya, papamu merasa sangat terpukul. Apalagi ditambah dengan penolakan kamu akan pernikahannya dengan… saya. Ia merasa gagal. Ia merasa dirinya bukan ayah yang baik”.
Papa…,bisik Ferre dalam hati terenyuh.
“Yaudahlah, Tan. Nanti saya temuin papa. Saya pengen istirahat dulu. Saya duluan, Tan.”
Ferre meninggalkan pemakaman dengan resah.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Kapan balik, Re?”
“Gue baru nyampe”, jawabnya pendek.
Karna sempat melirik ke balik kacamata hitam itu, mata Ferre sembab. Dia pake kacamata hitam karena hari ini terik sekali, karena emang nih anak gaya abis dari dahulu kala, atau karena nyembunyiin jejak tangisnya itu?
“Kabar lo gimana? Udah hampir 1 tahun kita ga ketemu. Sejak waktu__”
“Gue kerja di Kalimantan”, potong Ferre cepat.
“Dan bukan karena dia. Gue dapet panggilan untuk kerja di sana”, tambahnya lagi.
“Sorry, Bro… bukan maksud gue__”
“Fine. Ga apa-apa”
Lalu keduanya terdiam.
“Re…”
Ferre dan Karna serentak menoleh ke arah pintu samping, dari suara panggilan itu berasal. Terlihat Bima dan Gerry berjalan menuju mereka. Dasi hitam di kemeja abu-abu tua Gerry berantakan, begitu juga dengan rambutnya. Sedangkan Bima mengiringi di sampingnya dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
“I didn’t see you at the funeral“, cecar Gerry.
“I was just arrive half hour ago, Ge”
“Evelyn meninggal dari kemarin malam, tapi lo baru datang sesiang ini? Dan lo ga ikut ke pemakamannya!”
Ferre membuang muka dan menghembuskan napas keras-keras.
“Her mother just called me this morning“, ujarnya tenang.
“Ibunya juga ibu lo, Re! Itu ibu kalian”
“Ga usah dibahas, Ge”
“LO TUH EMANG KEBANGETAN YA!!”
Gerry merenggut kerah kemeja hitam Ferre lalu melancarkan pukulan ke muka Ferre. Kacamata Ferre terpental lepas dan ia terjatuh ke belakang. Bima langsung menarik Gerry dengan panik.
“Ge… udah! Apa-apaan sih lo?!”
Karna yang juga kaget melihat sahabatnya itu diserang tiba-tiba oleh sahabat sekaligus calon adik iparnya, buru-buru menghampiri Ferre.
“Lo ga apa-apa, Re?”
Ferre menggeleng sambil mengelus pipinya. Ia bangkit dan menghampiri Gerry. Karna memegangnya dari belakang.
“Gue tau lo sedih banget ditinggal Ev. Gue tau lo ga siap ditinggalin dengan cara kaya gini. Kalo lo pikir gue bertanggung jawab atas semua ini, fine! Tapi gue sama sekali ga tau tentang penyakitnya itu. Gue ngerti banget lo sedih. So do I. Biar gimanapun dia itu adek gue. She was the cure for the death of my mom. Walaupun sampe kapan juga gue ga akan pernah panggil mamanya dengan sebutan MAMA, tapi gue hormat sama dia. Dan gue ingetin lo, lo baru nyaris akan jadi adek ipar gue, so… masalah tante Sitta ini belum jadi urusan lo. Oke?! Sekarang tenangin diri lo dulu”
Ferre merapikan kemejanya.
“Kita ketemuan di café biasa jam4″, ujarnya sambil memungut kacamata hitamnya yang tergeletak di lantai kemudian beranjak meninggalkan Gerry, Karna dan Bima yang terdiam.
“Udah gue bilang kan, Bim… Keadaan Ferre pernah jauh lebih baik”
“Iya, Nyet… sebelum peristiwa itu…”
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Danish menutup buku yang sejak 1 jam yang lalu dibacanya. Diletakkannya lagi buku itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia mengusap mukanya dan menghembuskan napas berat. Mengapa harus di saat seperti ini? pikirnya risau.
Daniish merebahkan tubuhnya ke atas boneka kucing besar favoritnya. Ia menutup matanya perlahan. Kapan semuanya akan berakhir? Daniish merasakan kedua matanya hangat, tapi tidak sanggup untuk membukanya. Atau seharusnya aku bertanya ‘kapan semuanya akan dimulai lagi dari awal?’ Hhhh… Bisakah?? Angannya melayang. Rindu. Serangkaian slide monokrom berputar di ingatannya.
What drawing is it re?
A building
What kind of building?
Ordinary building
Daniish tersenyum geli membaca tulisan-tulisan dengan bahasa inggris sembarangan di ‘sms’ kertasnya dengan Ferre. Salah satu kebiasaan aneh yang sering dilakukannya berdua, berkomunikasi lewat kertas bekas, tissue, atau pinggiran koran. Dan biasanya juga di tempat-tempat yang ‘tidak biasa’ seperti di angkot, bandara, atau ruang makan seperti malam ini. Suatu keasikan tersendiri buatnya dan Ferre ketika mereka terpisah dari kegiatan orang-orang di sekeliling namun masih berada di tempat yang sama. Tanpa terganggu dan menikmati ‘rahasia’ mereka sendiri.
Daniish tersenyum lagi memandang sebuah gambar lingkaran di atas tulisan-tulisan yang ditulis tidak beraturan. Ia lalu menulis beberapa kata di kertas itu.
Mention the advantages of this ‘ordinary’ building!
Depends on your imagination…
Ah, you don’t have any idea when you said that this is an ordinary building, right?
No, I don’t… I mean, yes, I do have an idea… But I won’t tell you
Senyum Daniish makin terkembang. Bertambah 1 cm ke kanan dan 1 cm lagi ke kirinya.
Why?
No… I’m afraid you will steal my idea
Don’t you believe me?
It’s about an idea… a masterpiece… don’t you have your own idea?
Hey, it will be a masterpiece when you let people know it!
OK… but promise me that you won’t steal my idea…
Nope! I don’t need that. I just need to know
Ferre lalu menarik kertas kecil itu semakin dekat padanya. Ia menutup kertas itu dengan tangan kirinya seperti anak SD yang takut dicontek temannya, selagi ia menulis sambil tersenyum-senyum kecil. Tidak lama kemudian ia melipat kertas itu menjadi sebuah persegi empat kecil, dan diletakkannya di genggaman tangan Daniish.
“Udah ah, gerah nih abis one on one sama kamu tadi. Aku mandi dulu ya”, ujar Ferre seraya menepuk pipi Daniish pelan sebelum ia menghilang ke kamar mandi.
Daniish lalu membuka lipatan ketas itu dan membaca baris terakhir yang telah ditulis Ferre.
That’s a house… our house… and we’re inside of that house… we build a family there… caring each other… that’s a place to home… to share everything with love…
Saat itu Daniish ingat, dia langsung menggedor-gedor pintu kamar mandi Ferre, antara pengen nabok gara-gara gemas dan terharu karena…
Because… he was very sweet, bisik Daniish dalam hati.
Daniish ingat, akhirnya waktu itu ia hanya bisa menangis sambil terduduk di depan pintu kamar mandi sementara Ferre mengomel-ngomel di dalam karena kegiatan mandinya diusik Daniish.
“Jeleeek… kamu tuh lucu banget sih”, gumam Daniish yang lalu menyimpan lipatan segi empat itu di kantong celana pendeknya.
Sama seperti saat itu, sekarang Daniish hanya bisa tertegun ingin menangis. I can’t carry this feeling anymore, Re… I miss you very much! Hhhh… why should I left you
——————————-
Bip-bip-bop!
LCD ponselnya menyala warna-warni.
“Halo…”
“Dan, kita kan mau ada__”
“O, gue ga tahan lagi. Gue harus ketemu lo sekarang. Gue bener-bener stuck dan gue ga bisa ngapa-ngapain jadinya. Gue harus ngomong sama lo. Gue… Gue… kita ketemu di kafe aja ya. See ya there!”
Klik!
Di Big-O café beberapa kilometer dari apartment, Orchard mengerjap-ngerjapkan mata dengan gagang telepon masih terjepit di antara bahu dan telinganya.
“What the… hell?!”
—————————–
“Sampai sekarang gue masih ga yakin kalau keputusan gue adalah benar. Kalau ini memang keputusan yang benar kenapa sampai sekarang gue masih aja menyesalinya. Iya kan, O?”
“Hmm…”
“Gue pikir semuanya sudah berakhir sampai saat itu. Gue akan melupakan semuanya. Gue akan memulai hidup gue jauh dari dia. Gue akan punya pekerjaan, gue punya kehidupan gue sendiri. Tapi nyatanya… Lo liat sendiri kan, O?”
“Hmm…”
“Oooo… please…”, pinta Daniish dengan muka yang bisa dimasukkan ke museum rekor Indonesia sebagai muka paling sengsara yang pernah ada.
“Dan, mari kita mulai dari awal. My name is Orchard, and you? Ah ya… Daniish. What can I do for you, miss?”
“Oooo…”
“I was asking you, Dan”
“Ya… ya… lo bantu… hmmhh… I’m stuck, O!”
O menarik kursinya lebih mendekat. Ia menatap Daniish lama.
Tukk!
“Cerita yang bener!”, tegasnya seraya menjitak kening Daniish dengan mata melotot.
Daniish mengusap keningnya sambil monyong.
“Galak banget sih, ya”
“Harusnya hari ini gue ketemu lo mau ngomongin masalah grand opening Big-O cabang Bandung, ehh, malah diculik buat curhat masalah cewek kaya gini”
“Apa lo bilang? Masalah cewek? Orchard, please!!!”
“Ups… iya, sori sori… makanya buruan cerita. Dan satu lagi… gue mohon ceritanya tuh dari awal dong, Dan!”
“Kalo gue cerita dari awal banget, sampe lo tumbuh jambang, sampe mobil kodok lo keluar bengkel, sampe lo pindah apartemen juga ga bakal selese tau! Sudahlah anggap aja cerita ini tak berawal dan belum berakhir…”
“Terus gimana caranya dong kalau tak berawal dan belum berakhir?”
“Aaahh… Orchard! Can’t you just help me??”
“Nope! I can’t“
“What!!” Mata Daniish terbelalak sampai kayanya mau lepas dari urat-uratnya.
“Dan, biarpun lo dateng ke psikolog paling terkenal, nomor wahid, lulusan luar negeri, dengan sederet embel-embel gelarnya, kalo lo ga cerita masalah lo dengan jelas ya gimana cara bantunya kaleeee…”
“Gitu ya?”
“Dan, come on! U’ve got the degree, right? Gue jadi kasian aja sama psikolog-psikolog”
“Kenapa?”
“Iyaaa, udah lama-lama kuliah sampe tua, tapi tetep aja ga bisa nolong dirinya sendiri”
“Oooo, gue belum jadi Psikolog! Masih sarjana Psikologi”
“Yaa, whatever. Tapi buktinya, sekarang liat aja… bukan sarjana Psikologi yang ada di depan gue sekarang”
“Jadi apa dong?”, tanya Daniish hopeless.
“Anak kucing! Ngerengek aja bisanya”
Muka hopeless Daniish udah memasuki stadium III alias udah memelas banget deh! Matanya berkaca-kaca dan sudah siap menangis.
O melunak. Ia menarik napas panjang lalu mengacak-acak rambut pendek Daniish.
“Sweetie kittie, lo pernah nonton ‘Just Like Haven’ ga?”
“O, sekarang bukan waktu yang tepat buat lo ngajakin gue nonton”
Orchard tidak menghiraukan ucapan Daniish.
“Di film itu diceritakan tentang seorang dokter yang berbulan-bulan dalam keadaan koma, ga bisa mati, karena ada unfinished business yang harus dia selesaikan. You know, the spirit, jiwanya melayang kemana-mana. Finally dia bisa bangun, karena ternyata unfinished business-nya itu adalah bertemu dengan orang yang seharusnya jadi jodohnya sebelum dia kecelakaan”
“Owwh, so sweet. Masih ada film itu di Megaplex?
O menarik napas lebih panjang lagi. Seandainya aja anak ini bukan sedang dalam keadaan beberapa-waktu-menuju-kematian-jiwa, gue udah nabokin dia dari tadi, pikir O.
“Daniish, the point is… selesaikanlah unfinished business lo!”
Tangan Daniish yang akan mengangkat gelas coklat hangat ke mulutnya berhenti di udara.
My unfinished business. Yes, of course!
My unfinished business.
“Tapi, O… it isn’t gonna be easy, right?”
“Definitely! Don’t you wanna know the sad part of the film?”
Daniish mengangguk.
“Ketika terbangun, si dokter ga kenal samacewek itu”
“Hey!! Film macam apa itu?! Tapi mereka kan jodoh!!”, protes Daniish.
“Ya, tapi yang sudah bertemu dengannya hanyalah jiwa si dokter. Secara fisik mereka ga pernah ketemu kan? So… can you catch the point, dear?”
“Bahwa pasti bakalan ada hal-hal tak terduga, hal-hal menyakitkan dan menyedihkan?”
“Not really“
“Jadi?”
Orchard mengembangkan senyum bijaknya.
“All you have to do is trying. No matter what with the final. Coz, everything in your life had written on this…”, ujar O sambil menunjuk ke telapak tangan Daniish.
Had written… My life had written… Everything in my life had written…
“Terus… kalo ternyata gue emang nggak ditakdirkan sama dia, gimana?”
Orchard tersenyum lagi.
“Gimana kalo pertanyaan lo gue balik… jadi… gimana kalo ternyata lo MEMANG ditakdirkan sama dia?”
*I wish…*, bisik Daniish murung.
“Daniish, ketika Tuhan memutuskan untuk meniupkan sedikit keajaibannya ke dalam perut nyokap lo, seluruh takdir lo tuh udah dipaketin di sana. Jodoh lo, rezeki lo, mati lo, udah ditulisin semua. Jangan pernah takutlah”
Daniish tersenyum samar. Ternyata O benar-benar meminjam buku ‘Ketika Tuhan Berkata’ miliknya. Buku hadiah dari bunda yang baru sekali Daniish baca, itu pun cuma betah sampe bab 1 ‘kata pengantar’. Heuheuhe…
“Kalo emang udah tertulis semua__”
“Nay-nay-nay! Bukan gitu, say. Jangan diartiin secara dangkal pernyataan itu. Poinnya adalah jangan permasalahkan apakah dia jodoh lo atau bukan. Apa yang bisa jadi patokan bahwa orang itu adalah jodoh kita? Mungkin bisa aja ntar lo jadi nih sama dia, trus nikah, trus punya anak, tapi tau-tau di tahun pernikahan lo yang ke 7, misalnya, lo cerai. Who knows?? Jadi jangan nyerah dulu dong. Yang penting sekarang kasih usaha maksimal lo. Ok, dear?”
Daniish mengangguk dan tersenyum lega.
“O… what my life could be, If I don’t have you?”
“I know that very well, my dear spoiled cousin. Jadi sekarang kita akan membicarakan planning buat acara kita. Tapi sebelumnya pesenin gue pizza extra large with special topping, orange float dan double cheese cake. Your treat! Hup-hup!! Come on!”
“What?!!”
“Daniish sayang… there’s no free lunch nowadays!”
Dasar, semuanya dibikin bezneeez! Akhirnya Daniish pergi ke meja order sambil ngomel-ngomel.
—————————-
Daniish menyikut lengan Orchard yang sedang ‘menghabisi’ double cheese cake-nya kayak orang yang ga makan dari kelas 2 SD.
“O… hape lo tuh, bunyi!”
“Hmhh…”
Tanpa melepaskan tatapan mematikan pada desert-to-die-for-nya itu, O merogoh tasnya sembarangan.
“Halo?”
“Oh… hi! How are you doing all this time? Where have you been?”
“Really? Good for you. So… what’s up, girl?”
Orchard terdiam sesaat. Rona mukanya berubah.
“Geeze… When? Ok… Ok… Yes, Thank you. Bye”
Orchard meletakkan hapenya di meja.
“Dan… kita harus mempercepat kepergian kita ke Bandung”
“Hah? Kenapa gitu? Meeting sama anak-anak disini gimana?”
“Tele-conference aja. Kita berangkat ke Bandung besok pagi”
“Tapi kenapa?”
“Lo harus temenin gue ke pemakaman temen gue dulu waktu di Jepang”
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Tok-tok-tok… tok-tok…
“Hmmhh…”
Bima menggeliat malas. Dilapnya setetes cairan yang nyaris mengalir dari ujung mulutnya, lalu ditariknya lagi selimut hingga menutupi seluruh kepalanya.
Tok-tok…
“Bim… bangun!”
“Ngghhh!”
Karna menggedikkan bahunya lalu beranjak menuju dapur. Memang selalu susah membangunkan teman satu apartemennya itu. Liat aja ntar kalo udah telat bangun, telat ngejemput ceweknya yang manja nauzubillah, diambekin, trus mesti repot-repot nyari bunga lily buat permintaan maaf, nnaahhh… berasa deh tuh!
Karna menyeduh secangkir teh manis ketika pintu kamar Bima terbuka.
“Weihh, selamat pagi, Bro! Tumben rada cepet loading lo. Gue pikir tadi bakalan ada insiden lagi pagi ini antara lo sama cewek lo. Hehehe…”
Bima menggaruk-garuk kepalanya dengan tangan kiri dan tangan kanan menutup mulutnya yang menguap lagi untuk ke enam puluh… umm… sembilan?
“Gue tuh manusia. Makhluk yang dibekali nafsu, perasaan dan akal, Na. Ya belajar dari kesalahan dong!”
“Weisss… pagi-pagi udah cerah bener otak lo. Pagi ini trayeknya kemana?”
“Monyong! Lo kata gue ojek?”
“Lahh… pan iya! Emang apa beda lo sama ojek coba? Sama-sama nganterin orang tugasnya”
“Enak aja! Ojek kan dibayar… Gue? Mana ada! Gengsi lah gue minta bayar sama cewek gue ndiri”
Bima baru akan -berusaha- menyeruput teh kepunyaan Karna, ketika tangannya ditepis si empunya teh itu. Bima tinggal monyong.
“Lo tuh sebenernya dapet bayaran tau, Bim”
Karna mengerling Bima yang sekarang duduk di atas kursi bar tinggi di dapur apartemen mereka.
“Mana ada…”
“Lahh… itu tuh, satu-dua muah-muah tiap lo abis jemput dia pulang kuliah atau tiap abis nganterin dia pulang. Hayooo…”
“Haghaghaghh!!! Jadi itu lo itung juga, Nyet? Dasar lo!”
“Hehehe…”
Dering telpon menyusup diantara tawa mereka. Sambil menggumam yang kedengarannya seperti dasar-sinting-makanya-cari-pacar-dong, Bima buru-buru mengangkat telpon itu.
“Halo…”
“Iya, Ge…”
“Hahh!! Kapan? Sabar ya, Ge. Okay, I’ll be there as soon as possible. Soalnya gue baru bangun banget nih”
“Dimana?”
“Ok. See you there“
Bima meletakkan telpon di tempatnya. Ia lalu menarik napas dalam-dalam seakan-akan ingin menghirup sebanyak mungkin oksigen agar memenuhi seluruh pembuluh otaknya yang tiba-tiba jadi terasa sempit sekali.
“Kenapa, Bim?”, tanya Karna ikut-ikutan cemas melihat gelagat Bima yang berubah secara tiba-tiba setelah menerima telpon barusan.
Bima menggeleng.
“Gery’s fiancé just passed away last night“
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Hai babe… are you there? Umm… aku kangen banget sama kamu. Padahal kita baru ketemu beberapa jam yang lalu ya? Ahh, people fell selalu kayak gini kah? Umm… seandainya aja aku ga pernah jatuh cinta sama kamu, aku ga akan pernah ngerti apa itu hati yang tulus dan gimana setia yang indah…”
“Babe, kamu terbuat dari apa sih? Deket kamu aku jadi meleleh… Kamu sodaranya lampu semprong atau matahari memang selalu ngikutin kamu kemana-mana?”
“Hoahhmm… Are you still there, baby? Aku ngantuk nih. Tuh kan… abis ketemu kamu tuh kayak abis makan kangkung cah di Chinese Food langganan kita, ngantuk!! Tapi aku seneng… kamu kan bubuk tidur aku, tanpa kamu bisa-bisa aku jadi kalong… ga bisa tidur”
“Hmm… eh, coba dengerin deh lagu ini…”
I’m so scared that u will see /all the weakness inside of me /I’m so scared of letting go /that the pain I’ve hid will show /I know u want 2 hear me speak but I’m afraid that if I start to /ill never stop..
I want u 2 know /u belong in my life /the love… the hope… I see in your eyes
I’m afraid that u will leave /as my secret have been revealed /in my dreams you’ll always stay /every breathing moment from now
I can not hold back the truth no more /I let u wait too long
Although it’s hard and scared me so /a life without you scares me more…
“That’s true… Walaupun semuanya terasa berat dan mengerikan… tapi hidup tanpa kamu lebih mengerikan buat aku… so, would u promise that you’ll never ever leave me, babe? Sebagai jawaban atas sebentuk hati buat kekasih ini…”
Tiit…
Karna geleng-geleng kepala.
“Voicemail dari siapa sih, Bim? Panjang amat”
Bima yang sedari tadi menyeka rambutnya yang basah dengan handuk hanya tersenyum. Tak lama, ia mulai menekan 12 nomor di ponsel giant-nya itu.
“Sunshine… kamu bawel sekali hari ini… setelah puas berhujan-hujanan sepanjang jalan tadi, sekarang sudah waktunya kamu istirahat. Matahari juga perlu malam kan?”
“I won’t,… I will never ever leave you. So… sleep tight, dear. Besok bumi butuh sinar kamu lagi. Awas, jangan sampe flu! Good nite… Mwaahhh!”
“Ck-ck-ck…”
Karna berdecak kagum memandang Bima.
“Buset dah, Bim! Cinta mati lo sama dia?”
“Mati, Nyet… Mati!”
Haghaghh!! Keduanya tertawa basi, lalu masuk kamar masing-masing.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Pintu dibuka.
“Loh… ada apa? Kenapa kamu menangis? Ayo…”
Ibu merangkulnya masuk.
Evelyn terisak-isak dipangkuan ibu. Dan ibu hanya mengelus pundaknya tanpa bertanya dan membiarkannya menangis.
Begitu airmatanya surut, Evelyn pun bangkit.
“Bu… aku ngantuk, dan dia masih belum juga pulang”
“Ya sudah… tunggu saja di kamarnya. Nanti begitu dia pulang Ibu suruh dia membangunkanmu”
“Ibu… selamat malam. Ibu baik sekali”
Evelyn naik ke lantai dua dan merebahkan tubuhnya.
Hhhh… Kamu dimana?
Sesuatu yang hangat di keningnya membuat Evelyn mendadak terbangun.
“Sayang, kamu tidur disini?”
Dia menegakkan bantal itu dan membantunya duduk.
Dia membelai wajah Evelyn dengan sayang.
“Mata kamu kenapa? Kata Ibu kamu nangis. Apa aku yang membuat kamu sedih?”
Evelyn menggeleng, namun air matanya terus turun lagi.
Dia menghapus air mata itu sambil berbisik.
*Kamu nangis lagi*
“Aku cuma kangen kamu”
Dia tersenyum.
“Yasudah… aku sudah pulang kan? Kamu nginep di sini aja. Kamu tidur lagi ya. Aku jagain”
Dia membenarkan bantal itu lagi untuk Evelyn. Dia berbaring disamping Evelyn sambil membelai rambutnya.
“Would you hold my hand?”
“Absolutely, dear“
Dia pun menggenggam tangan Evelyn erat-erat.
“Do you love me?”
“Nope!”
Bibir Evelyn yang mengerucut membuat dia tertawa.
“Say it… say that you love me“
“Manjaku…”
“Ayo… cepat…”
Dia berbisik di telinga Evelyn.
*I love you*
“Terus… sampai aku tertidur”
*I love you*I love you*I love you*I love you*I love you*
Dia terus membisikkan kata-kata itu sampai genggaman tangannya terlepas tiba-tiba.
“Sayang kamu udah tidur lagi?”
Evelyn tidak bereaksi sama sekali.
Dia mulai terlihat panik.
“Sayang… tangan kamu dingin sekali”
Dia menepuk-nepuk pipi Evelyn pelan.
“Evelyn!”
8 Desember 2007 01.11am
1 message received
Ge, jaga Ev baik-baik, jangan pernah bikin dia sedih. Bahagiakan Ev, karena dia cuma bahagia sama lo. Gue ga tau dia akan bertahan sampai kapan. Dia mengidap kanker otak stadium III. Gue benci bilang ini, tapi tolong jagain Ev buat gue.
Mesha
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Saya dimana?”
“Anda di rumah sakit. Beberapa menit yang lalu anda pingsan di pinggir jalan. Seseorang membawa anda ke sini”
“Siapa dia? Mana orangnya?”
Dokter tersenyum.
“Dia sudah pergi. Dia meminta saya untuk tidak memberitahu anda tentang identitas dirinya”
Ia hanya mengangguk lemah.
“Boleh saya bertanya?”
“Tentu, Dok”
“Kejadian ini bukan yang pertama kali bukan?”
“Ya”
“Seberapa sering?”
Ia terdiam.
“Sering. Kepala saya sakit sekali, sampai saya tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Setelah itu… ya seperti ini, tau-tau saya sudah berada di rumah sakit, atau puskesmas, atau ruang kuliah saya”
Dokter tertawa. Hanya sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Nikmati hidup. Hiduplah dengan bahagia bersama orang-orang yang anda sayangi”
Ia mengerutkan dahinya.
Dokter mengatakan sesuatu yang membuatnya terbelalak.
Di luar ruangan, seseorang terduduk lemas dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
8 Desember 2007 7:32 am
1 message received
Aku mhn, aku pngen ktmu kmu, skali ni aj. Pls.. ini untk yg trkhir kalinya
“For you…”
Evelyn menerima setangkai bunga mawar pink itu.
“Thanks“
Ev pun duduk dengan mendekap tasnya.
Beberapa menit keduanya tanpa suara.
“Kenapa kamu membuat aku kayak gini?”
Evelyn menaikkan alisnya.
“Kenapa kamu tega banget ninggalin aku dan membuat aku seperti ini? Aku ga bisa hidup tanpa kamu. Kamu tau itu kan?”
Evelyn tidak menjawab.
“Aku sayang padanya”
“Terus aku gimana? Aku sayang sama kamu!”
“Bukan berarti aku tetap harus sayangin kamu. Kesempatan yang aku kasih dulu sudah cukup dan ga pernah kamu pergunakan dengan baik. You’re time is up!”
Evelyn mengambil tasnya dan berdiri.
“Tunggu!”
Dia mencekal pergelangan tangan Evelyn.
“Apa lagi?”
“Seengganya, biarkan aku berusaha untuk dapetin kamu lagi”
Evelyn menatap rona putus asa di wajah itu.
Evelyn tersenyum, lalu membuka genggaman tangan dia.
“Menyayangi aku, itu hak kamu. Berusaha untuk dapetin aku lagi, itu juga hak kamu. Tapi terus menyayangi dia sampai aku ga sanggup lagi, itu yang akan selalu aku lakukan mulai saat ini”
Evelyn pun meletakkan mawar pink itu lagi ke dalam genggaman tangan dia.
Evelyn pergi…
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“I wanna be the official people who will pick u up to go to everywhere you want… And I wanna be the official people who will love you in every each day… Officially loving you… My dear, would you be my girl?”
And she’s shocked.
***Zap!!!***
“Ev… look at him!”
“Siapa??”
“Him! Ge!”
“Mana??’
“Arrgh!! Ev!! Look at that!” Orchard memutar kepala Evelyn ke arah yang ditunjuknya sedari tadi.
“Mana? Ga ada!”
“Erghh.. you! He was there. And you just… ‘siapa?’, ‘mana?’ “
“Hihihih… O, kamu lucu banget deh. Iya… aku sudah lihat kok. Memangnya ada apa dengan dia?”
“Dia?! Come on, Ev… He is Ge”
“Ya… ya… Memangnya ada apa dengan Ge?”
“Where will he go?”
“Hmm… yang begitu dipikirin. Mau ke rumah ceweknya barangkali”
Potongan kue cokelat terakhir pun masuk ke mulut Ev.
O melipat ke dua tangannya di depan dada dengan mulut monyong.
***Zap!!***
“Ev… would you be my girl?” kalimat itu berulang.
Evelyn tersentak dari lamunannya. Di depannya seorang cowok sedang berlutut, menatap jauh ke dalam matanya, sambil menggenggam kedua tangannya erat.
God… love is really funny, right? Beberapa bulan yang lalu, cuma ucapan cuek itu aja yang keluar dari mulutku. Nggak sedikitpun ada perasaan berbeda. Tapi sekarang…
Evelyn tersenyum.
“Ya… I do, Ge”
Dan Evelyn pun berhenti mengingat. Hari ini, beberapa menit yang lalu sebuah cincin emas putih dipasangkan di jari manisnya. Ia mengelus-ngelus benda (yang akan jadi) kesayangannya itu. I am engaged now!, pekiknya dalam hati, kegirangan. Kayaknya peristiwa di ‘ingatan-dalam-ingatan’-nya belum lama terjadi, dan here she is now… with the ring in her finger. Happy…
“Ah, here you are, pretty lady! Tamu-tamu pada nungguin di bawah, tauuu…”, ujar Gery seraya mencium kening tunangannya dengan sayang.
Evelyn menutup matanya, menikmati sejenak kehangatan yang menyentuh keningnya.
Bib-bip-bip!
Arrgh… ada saja yang mengganggu momen-momen indah seperti ini, gerutu evelyn dalam hati. Namun ia langsung kegirangan melihat nama yang muncul di LCD ponselnya. Ia pun memberi kode pada Gery untuk turun duluan menemui para tamu, dan ia akan segera menyusul setelah menerima telepon ini.
“Halo..”
“I can’t accept you’re not coming today”, tembak Evelyn sebelum si penelpon di seberang sana sempat melanjutkan sapanya.
“Good afternoon and I’m happy to you, miss. So you’re engaged now. Is it correct?”
Evelyn tersenyum, gemas. Dia selalu meragukan aku akan beranjak dewasa.
“Yeah… unfortunately.. ahahaha…”
“Hahaha… Maaf ya ga bisa kesana. I got a lot of works to do here”
“Selalu aja pekerjaan. Ga bisakah ditinggalkan sehari-dua hari?”
“Sorry, miss. Kali ini bener-bener ga bisa. Yang penting aku ikut berbahagia untukmu di sini”
“Paling bisa!”, gerutu Evelyn.
“Hehehe… seriously. Ok then, be good. Catch up you later”
“Thanks, Ferre. Bye”
“Bye…”
Evelyn tersenyum. Today is perfect!
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Aku ga mau kamu ngomong apapun… hanya dengarkan… okey?”, pinta Daniish dengan suara nyaris berbisik. Ia mengelus pipi Ferre dengan tangan gemetar.
“Please…”, bisiknya lagi.
Ferre mengangguk. Di wajahnya tersirat kecemasan yang dalam.
“Semua orang punya masa lalu… Yang indah ingin selalu dikenang dan yang pahit pasti ingin dilupakan. Begitu juga aku…”
Daniish berhenti sebentar demi menatap mata yang selalu ingin dilihatnya itu.
“Aku sayang banget sama kamu…”, bisiknya seraya mengusap kedua tangan Ferre yang mulai dingin.
Daniish terus menatap Ferre tanpa putus, bahkan untuk sepersekian detik kedipanpun sepertinya tidak ingin. Takut ketika dia kembali membuka mata, Ferre sudah tidak berada di hadapannya lagi.
“Sayang… ini tentang apa sih?”, tanya Ferre yang mulai tidak sabar dan cemas.
“Re… dengerin aku…”
Akhirnya pertahanan Daniish jebol. Ia pun mulai terisak.
“Sayang…”
Ferre sudah akan memeluknya, tapi Daniish menolak.
“Re… berhenti sayangin aku!”
Re tersentak kaget. Ia mengangkat wajahnya. Kedua matanya menatap Daniish penuh tanya.
“Tapi kenapa?? Aku sayang banget sama kamu…”, bisik Ferre.
“Karena itulah… kamu berhak… dapetin yang jauh lebih baik daripada aku…”, ujar Daniish dengan terbata-bata karena air matanya telah turun lagi kini, mengaliri pipinya. Hanya kesedihan mendalam yang dapat ia rasakan sekarang.
“Aku janji aku akan pergi jauh-jauh dari hidup kamu, dan kamu ga perlu mengingat apapun tentang aku… tentang kita… Maafin aku”
Daniish mengecup kedua pipi Ferre lembut.
“You are the best I ever had…”, bisik Daniish di telinganya. Dan sebulir air mata jatuh lagi dari pinggir matanya.
“Jangan berkata apapun lagi, Re. Biarkan aku pulang sendirian, karena hari ini… terakhir kali aku ke sini”
Daniish menyandang tas ranselnya lalu berbalik menatap Ferre lama.
Ahhh… kamu akan sangat aku rindukan, Re… Mata itu… Alis itu… bibir itu…
“Re… aku pulang…”
Walaupun dengan ribuan pertanyaan di benaknya, Ferre hanya menatap kepergian Daniish pasrah.
Daniish melangkah pelan keluar dari kamar dengan wangi apel yang khas itu. Airmatanya mengalir deras.
Kamar itu ga akan pernah aku datangi lagi.
Daniish lalu menuruni anak tangga satu persatu. Diusapnya pegangan kayunya.
Aku ga akan pernah balapan naik tangga ini lagi sama kamu, Re.
Di depan pagar, Daniish menyusuri seluruh bidang rumah yang asri itu dengan matanya. Mencoba merekam tiap-tiap sudut lengkap dengan kenangan-kenangannya bersama Ferre.
“Ya… tawa kita ga akan terdengar lagi di rumah ini, Re. Tapi semua kenangan antara kamu dan aku, akan terus aku simpan rapat-rapat dalam hati”
Daniish menghapus bulir di ujung matanya.
“Karena kamu… bagian dari hidup aku… sampai kapanpun”
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Ferre : Apa yang kamu lihat di dalam mata aku?
Daniish : Me…
Ferre : You’re right, Hon. :smile: Dan kamu bukan cuma ada di sana aja. Tapi kesini… ke kepala… trus ngalir ke sini… ke hati aku. You know what? Kamu ada di mata, pikiran dan perasaan aku.
Daniish : :smile:
Ferre : Yang ada di depan aku ini, juga masa depan aku…
Daniish : :smile: Sebutin beberapa alasan kamu sayang sama aku…
Ferre : :close Daniish’s eyes and begin whispering: Karena alis dan mata ini… :kiss Daniish’s eyes:
Daniish : :begin laughing:
Ferre : Karena hidung ini… Karena pipi chubby ini…
Daniish : :laugh louder:
Ferre : :whisper more softly: and because this lips… yang selalu ngebawelin aku…
Daniish : :open eyes: Kenapa semua alasannya fisikal?
Ferre : Tuh, bener kan bawel! Aku hanya menyebutkan yang bisa terlukiskan aja, sayang. And another million reasons, is unexplainable. You just mean everything to me. :whisper: Happy first anniversary…
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Hmm… Akhirnya gue ngerti… bahwa dia udah nemuin kebahagiaannya… yaitu sama lo. Glad to know that… Selamat ya akhirnya kalian jadian juga“
Daniish menatap Flor heran. Bingung… sebenernya pembicaraan ini mengarah kemana.
“Ngng… Flor… actually gue ga ngerti sama apa yang lagi lo omongin”
Flor tertawa, hambar.
“I mean it, Flor… Gue ga ngerti maksudnya apa”
“Well… okey… uhmm… gue seneng aja denger cerita lo tadi. Tentang kalian jalan-jalan bareng dan lo udah membuat dia, ummm… alive! Especially the way u deal with his… umm… spoiled? Ya whatever… Gue jadi makin yakin aja, bahwa lo emang punya sesuatu yang Ferre cari selama ini. Congratulation for you…“, jelas Flor, masih dengan senyum di wajahnya cantiknya itu.
Ahh… Flor… masih bisa tersenyum?? Kalo gue jadi lo… I’m sure I couldn’t!
“Okey then… I’ve got your point. Awalnya gue pikir kita bakalan having fun together as a friend. Jadi, sebenernya ‘date‘ kita hari ini sekalian investigasi?”, tanya Daniish.
Flor hanya menggedikkan bahunya.
“Flor… pada dasarnya, I just behave like the way I am. Mau dia suka atau ga suka, itu terserah dia. Yang jelas gue ga akan pernah berubah karena orang lain. Tidak juga karena Ferre. Kalau dia ga suka sama sifat atau tingkah laku gue, dan itu prinsipil buat gue, silahkan… dia boleh tinggalin gue kapan aja. Gue adalah gue… Ya seperti itulah adanya. Kalau lo pikir memang itu yang Ferre cari selama ini, yaa… mungkin cuma kebetulan aja”
Ada sedikit ketidaksukaan dalam nada suara Daniish.
Flor membuka kacamata hitamnya dan menatap Daniish tajam.
“Yang gue ga habis pikir, sepertinya sampai saat ini pun lo masih menyelidiki gue… is it very important for you, Flor?”
Flor terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang unpredictable itu dari bibir Daniish.
“Hey… I just told you for what I feel. Girl…I’m nobody, so it doesn’t mean a thing anyway…”
“U are somebody, Flor! Somebody who have had a great time with him before… Pengaruh lo akan makin jelas terasa di gue kalo lo terus-terusan mencoba melakukan sesuatu terhadap gue. Please… stop!”
“Hey… “
Flor akan memprotes, tapi Daniish tidak memberinya kesempatan sedetikpun.
“You know what, Flor… Lo nyakitin diri lo sendiri kalau kayak gini terus. You are pretty, get succeed with your work, have a great life… What else?? No matter what ya buat gue, toh yang sakit hati lo sendiri. But finally itu mengganggu gue. Belum cukup buat lo? Belum selesai? Kalau memang belum selesai buat lo, fine… Perlu kita ngomong bertiga lagi? Lo, gue dan Ferre?”
“Dan… “
“Sulit bagi lo untuk menemukan hal menarik apa dalam diri gue yang membuat semua hal ini perlu terjadi? Sulit bagi lo untuk menemukan hal apa yang membuat Ferre meninggalkan Floraza untuk seorang Daniish? Gitu? Kenapa?? Ada yang aneh dengan kata-kata gue?”
Flor terdiam menatap jalanan yang mulai ramai dilewati orang yang lalu lalang. Beberapa menit kemudian mereka berdua hanya saling diam.
“I’m so sorry, Dan… U’re right, gue belum bisa ngelepasin dia. Umm… bukan, bukan… Yang bener gue masih belum bisa nerima dia udah ngelepasin gue. U know… it’s… hhhhh…”
Flor tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia menarik napas dalam-dalam.
“Flor… kalau gue bilang gue bisa ngertiin apa yang lo rasakan, mungkin terdengar bullshit banget. Karena gue memang bukan pihak yang dirugikan dalam hal ini, tapi lo. But Flor… u know what… I am dealing with it… Semuanya ini juga ga mudah buat gue. Semuanya terasa terlalu cepat, tapi gue ga mau ngelepasinnya. Sound weird, tapi gue juga berhak mendapatkan kebahagiaan gue sendiri kan? So, Flor… should I do apologize for taking my own happiness?? If u think so… I would“
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
june 12th, 2005
you have shown me your patient for waitin’
even you don’t know (me neither) what are you waitin for
you shouldn’t waitin for much longer anymore..
you needn’t to be my secret anymore..
i need you to be my true..
I’m totally yours
Ferre
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
3 Juni 2005 8:55 pm
Dear diary,,, i feel insecure tonite…
since… everything going very fine… so fast…
God has given too much
then… i feel so scared
Ahh… Tuhan!! Semua ini tuh jauh lebih baik dari apa yang gue harapin. Terlalu baik malah. Saking Maha Baiknya Dia, yang ada gue sekarang makin nggak jelas kenapa jadi seperti ini. Kayaknya memang benar apa yang orang-orang bilang, segala sesuatu yang berlebihan terasa nggak oke juga. Kadang-kadang gue suka mengutuk Tuhan dan bilang “Tuhan nggak pernah sayang dan ngasih yang baik buat gue!”. Sekarang… ketika Dia jadi begitu sayang dan memberikan segala yang baik <malah terlampau baik> buat gue, gue malah pengen bilang “Halllaaah… Tuhan, ini tuh terlalu baik!”. Maka setelah itu Tuhan akan menggumam malas… “Ahh… human!”
Gue sekarang seperti orang yang paranoid. Takut ada tindakan gue yang salah. Takut ada ucapan gue yang salah. Takut dia nggak suka warna baju kaos gue. Takut dia nggak suka potongan rambut gue yang baru. Takut dia ilfil liat cara makan gue. Takut… takut… takut… Kalau aja ketakutan-ketakutan ini dimasukin ke dalam sebuah piramida, di puncak piramidanya akan tertulis besar-besar dengan huruf kapital ‘Takut kehilangan dia’. Damn!! Semuanya ternyata terpusat kesana. Hhhh… gue takut banget kehilangan dia, di saat semuanya terlihat begitu baik ini.
Takut kehilangan???
Seketika Daniish terhenyak…
What am I thinking? Gue takut kehilangan dia? Kok bisa?? Hey gal… wake up!! Gue takut kehilangan orang yang belum gue milikin. Apa namanya itu?? Semua ini tuh GILA!! Well… fine, dia bilang dia sayang sama gue, dan udah memperlihatkan sayangnya itu ke gue. Tapi tetep aja, dia belum jadi milik gue kan? Gue belum berhak atas dia kan? Gue ga akan kehilangan dia karena dia bukan milik gue. Damn!!! Should I happy or… what?? Keadaan ini bikin gue sakit.
behind the rain and tear drop
i am going screaming…
I’m afraid losing him !!!!!!!!!!
Di luar hujan mengguyur dengan derasnya <Lohh… bukannya bulan Juli itu seharusnya masih musim kemarau? Dunia sudah sakit juga ternyata>. Dan di antara deru hujan dan air mata yang terus turun lewat pipinya, Daniish berteriak sekuat tenaga. “GUE TAKUT BANGET KEHILANGAN DIA!!!”
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Lo harus realistis dong, Dan. Kita ini hidup bukan di dunia impian, dimana semua keinginan kita bisa tercapai. Nggak semuanya bisa berakhir baik-baik aja. Jelaslah Nugra masih nguber-nguber lo terus. Apalagi setelah dia merasa udah lo bikin sakit hati, apa masih berhak lo minta ke dia untuk ‘baik-baik’ aja sama lo? Plis dong, Dan… don’t be so naïf gitu deh”
“Iya… gue ngerti. Tapi… at least, kenapa dia nggak biarkan gue untuk ngedapetin kebahagiaan gue sendiri? Kenapa dia nggak bisa nerima alasan gue minta putus ke dia?”
“Karena buat dia alasan lo itu nggak masuk akal!”
“Maksud lo?”
Peppito menatap Daniish tajam.
“Lo harus jawab ini dengan jujur, Dan. Lo mutusin Nugra bukan karena Ferre, kan?”
“Damn!!! Pep… sampe kapanpun, lo atau siapa aja yang nanya gue dengan pertanyaan itu, jawabannya akan tetap sama. Nggak!! Bukan itu alasan gue mutusin Nugra. Jangan salahkan Ferre dalam masalah ini. Yang salah adalah, gue dan Ferre dipertemukan di saat yang sangat tepat dan sempurna. Itu aja. Tapi bukan dia alasan utama gue mutusin Nugra”
“Jadi apa alasan sebenernya? Sebelum lo bisa membuat gue percaya, lo nggak akan pernah bisa lepas dari Nugra. Lo udah sama dia hampir dua tahun kan, Dan? Lo pasti kenal dia banget. Kalo lo aja nggak bisa ngeyakinin gue, lo nggak akan pernah bisa membuat Nugra percaya”
Daniish menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras-keras.
“Pep… gue harus gimana lagi ngejelasin keadaan gue saat mutusin Nugra. Gue udah ngerasa nggak nyaman lagi, Pep. Gimana cara gue ngejelasin perasaan nggak nyaman itu, gimana? Gue udah coba jelasin ke dia, mungkin karena kita nggak cocok. Dan dia terus-terusan mendesak gue untuk ngejelasin dimana letak ketidak cocokan kita. Gue nggak bisa, Pep. Harus gimana caranya gue ngejelasin sesuatu yang cuma bisa gue rasain? Gimana caranya lo ngejelasin ketika lo jatuh cinta? Gimana caranya lo jelasin apa yang terjadi ketika dulu lo tau-tau manjangin rambut lo, padahal jelas-jelas lo paling males keramas, creambath dan segala macam tetek-bengeknya. Dan itu lo lakuin ketika lo bilang lo jatuh cinta sama Oby yang ternyata junkies itu. Gimana cara lo ngejelasin mekanisme semua itu?”
Peppito diam terpaku.
“Lo nggak bisa. Iya… nggak bisa kan? Sama… kayak gitu juga gue. Yang bisa gue lakukan cuma ngeles… ngeles… dan akhirnya dia malah nggak percaya satu patah katapun dari gue. Gue udah hopeless, Pep. Pada akhirnya gue hanya bisa membiarkan dia berpikir apapun tentang gue dan Ferre, walaupun gue yakin yang ada dipikirannya itu seribu persen salah. Gimana lagi caranya ngejelasin ke dia, bahwa semua rasa yang dulu itu udah ga ada lagi? Gue capek, Pep. Gue cuma mau ngejalanin yang sekarang ini sama Ferre”
“Sorry, Dan. Gue ngelakuin ini semua karena lo berdua itu temen gue. Gue nggak enak aja kalau ceritanya jadi kayak gini. Nugra itu khawatir sama lo. Selain dia memang masih sayang banget sama lo, masih pengen balikan lagi sama lo, dia juga pasti cemburu berat lah ngeliat lo sama Ferre”
“Tapi gue berhak atas kebahagiaan gue sendiri kan, Pep?”
“Iya… gue boleh tanya? Lo udah jadian sama Ferre?”
“Emangnya itu penting? Lo liat sendiri, hampir enam bulan terakhir gue jalanin hidup gue sama Nugra tapi nggak beserta hati gue. Jadi apa itu masih penting?”
“Gue nggak ngerti, Dan…”
Peppito menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Daniish heran.
“Pep… apa pentingnya status, ketika kita bisa hidup dengan seseorang dengan status itu tapi dia nggak memiliki kita beserta hatinya? Sementara gue bisa sayangin seseorang dengan bebas walaupun tidak dengan status tertentu. Ketika kita bisa memilih mendapatkan status dan hatinya, tentu aja kita akan memilih opsi itu kan? Tapi ketika kita tidak diposisikan untuk memilih, seperti gue waktu itu, kira-kira lo akan memilih apa?”
Peppito terdiam dan terlihat berpikir beberapa saat.
“You got me… gue nggak akan pilih status”, ujar Peppito dengan suara pelan hampir tak terdengar.
She’s finally surrender.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Efeknya keren banget ya, Re… Liat deh…”
“Re??”
“Hah??!”
Ferre buru-buru memasukkan HPnya ke dalam saku celana, diikuti lirikan mata Flor dibalik kacamatanya.
“Nanya apa tadi?”
“Kamu tuh sebenernya mau nonton apa ga sih, Re? Malah SMS-an. Aku tadi bilang efeknya keren banget”
“Oohh… Aku tadi cuma ngeliat jam aja. Eh… bentar ya, aku ke toilet dulu”
Dalam gelap studio 3 bioskop itu, Ferre berusaha mencari jalan menuju toilet. Sesampainya disana ia langsung mengeluarkan HP-nya lagi. Dengan cepat diketiknya sebuah SMS ke salah satu nomor yang telah dihapalnya luar kepala.
Message sent
Di ruang lain, di belahan bumi yang hanya berbeda beberapa kilometer saja, seseorang membuka 1 SMS yang baru masuk ke HP-nya.
^Ferre Darjuna^
Dan,kmu dmn? Aku lg nmnin Flor nntn, tp aku g nymn. Tdny aku mo ktmu kmu. Jdnya aku g konsen nntnnya,inget kmu trs. Kmu ngikutin aku kmn2. tke cr babe…
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Dan… tuh Ferre sama Flor”, bisik Pru seraya menunjuk ke gerbang kampus.
Duoong!!! Sepertinya ada sebuah gong besar yang dipukul di depan telinga gue. Tapi aneh… hanya membuatnya berdenging sedikit. Justru yang sakit… di dalam sini, nih… hati gue, man!
Apa ini, apa ini?? Kenapa mata gue jadi panas dua-duanya? Kok jadi lemes gini sih? Loh… loh… gue kan ga asma, tapi kok sesak gini? Aduuuh… siapapun, tolong gue!!!
Daniish berteriak dalam hati. Ekor matanya mengikuti kedua orang itu sampai menghilang di tikungan.
“Dan!”
Tepukan di pundaknya membuat Daniish terlonjak kaget.
“Apaan?!”
“Biasa aja napa? Sampai mo keluar gitu mata lo ngeliatinnya. Mereka tuh udah putus belum sih, Dan? Kok masih jalan bareng gitu? Eeeh… malah bengong lagi! Cemburu yaaa…”
Daniish memalingkan mukanya dan memaki dalam hati. Bukannya menolong, memberi napas buatan atau apa kek untuk membantunya, Pru malah menggodanya habis-habisan.
“Brisikkk!!”, umpat Daniish, bete.
“Huwaaahh… mata lo merah gitu, Dan. Kenapa lo?? Woii… biasa aja dong, biasa!”
Daniish mengambil tas ransel besarnya lalu melemparkannya ke muka Pru.
“Monyong!!”
Daniish berlari meninggalkan Pru dengan mata mulai berair.
Sepeninggal Daniish Pru tersenyum ganjil.
“Akhirnya gue tau persaan lo yang sebenernya, Dan. Lo ga pernah bisa bohong sama gue”.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
27 April 2005 6:45 pm
Im the stupid girl!!!
Salah ya kalo gue suka sama orang yang termasuk ‘romeo’ kampus?
Salah ya kalo gue bisa deket sama dia?
Gue seneng banget bisa kenal Ferre
Awalnya kita cuma bales2an message lewat friendster doang
And he was very kind
:senyum lebar:
Sejak itu akhirnya lama2 deket, trus tukeran no.hp, suka smsan,
Dia juga kadang2 nelpon ke flat gue (Gue kaget yang satu ini)
Gue kayak udah kenal lama gitu sama dia
Cerita, curhat, ngeluh sama dia, dan dia tuh baek banget sama gue
Dia mau jadi op (objek penelitian) pas gue praktikum
Mungkin memang dia baek banget ke semua orang
Tapi ini ke gue?
Siapa sih gue?
Tau2 anak2 dengar gue dengan sukses jadiin dia op
Kebayang dong gimana reaksi mereka…
Dan reaksi ini yang ga gue peritungin sebelumnya
Pertama kali gue ketemu muka sama Ferre waktu di lab
(Secara kita kenalan lewat friendster tanpa dia tau yang namanya ‘Daniish’ tuh yang mana…)
(Catetan: kita baru ketemu 3 bulan sejak ketemu di friendster. Fyuhhh… )
Waktu itu dia nyusul ke lab karena gue minta dia ngisi surat keterangan op
Dia cakep banget!!
Pake baju biru dongker, baru pangkas rambut J Dia lucu banget
Gue liat dia senyum
Gue liat dia duduk di samping gue
Dan gue liat matanya baaaguuuus banget!! (Gosh…)
(Salah ga kalo sampe gue suka sama dia????)
Kita ketemuan lagi besoknya di fakultas
Gue sengaja ngehindar karena banyak anak2 psikologi angkatan atas di sana
Waktu gue dateng, gue liat temennya nanya ke Ferre ‘yang ini?’
Trus dianya senyum-senyum dong!!
:keluh:
Gue ga tau sebenernya apa yang Ferre bilang ke dia
Tapi itu mengganggu banget
Rese ga sih?!
Gue ga tau yang mereka bicarain positif atau negatif tentang gue
Sejak itu gue ngerasa kayak semua mata ngeliatin gue, ngenilai gue…
:ha-ha… gue ketakutan dengan pikiran gue sendiri! Gila!:
Gue ngerasa ga nyaman!
Apa yang mereka tau tentang gue sama Ferre sebenernya?
Malemnya gue jadi down berat, atau ga tenang, banyak pikiran, mumet… Resah mungkin yang paling tepat menggambarkan keadaan gue yang kelewat parah
Dan Ferre dengan manisnya nawarin ‘need me to call?‘
Gue jadi ragu…
Karena udah ngeliat gimana respon temen2nya (walaupun cuma perasaan gue aja.. huhu)
Lamaaaa banget gue mikir….
Ternyata dia udah nelpon duluan
:dududududu… ada yang denger lagu overjoyed ga? Atau cuma gue sendiri aja? YA AMPUN!!:
He was very nice and very kind…..
Dia peratian banget!
(God!!! gue belum kenal dia sama sekali!!)
Gue takut terlalu seneng dan puas duluan
Gue ga tau apa dia memang kaya gini ke semua orang <cewek>?
Dia baek banget
Sumpah….
Trus… sore ini gue liat dia waktu mau ke fakultas
Dia ga liat gue, tapi temen cowoknya liat gue lagi celingak-celinguk
Dia senyum2 dong!!!
God… sebenernya apa aja yang udah orang2 tau ya?
:lagi-lagi ketakutan sendiri. Iihh…:
Gue gerah…
Tapi waktu gue sms Ferre dia yang kaya kaget gitu
“udah ngerjan tugasnya? sini atuh kalo ga da kerjaan,temenin ngobrol”
<dan setelah kejadian sore ini, isi sms ini gue simpulin sebagai BASA-BASI… doang.. doang.. doang…!!!>
Gue akan gambarkan kejadiannya, saudara-saudara…
Gue kesana… Orang lagi rame… Dia kaget… Gue juga ga nyangka reaksinya bakal gitu…
Everything happen next seems very terrible for me
Pas lagi nonton dia maen futsal…
Damn!!! Gue kaya orang bego sedunia!!!
Bayangin ya, gue kesana karena mau nonton dia
At least… berarti gue sama dia dong, bener ga?
Tapi berasa gue ga sama dia
Jadi kalo gue mo pulang, ya pulang aja ga perlu pengumuman sama dia
What the hack banget ga sih?!!
Waktu gue lagi nonton gitu gue liat2 sekitar…
Tau-tau ada 3 cewek <kalo ga salah satu tingkat di atas gue> bisik2 sambil nunjuk2
Ey-ey!! It’s only me here… pasti gue dan bukan orang lain kan? Karena ga ada sama sekali orang di radius beberapa meter dari gue, terimakasih…
Sumpah…. ga enak laaaah!!!
Apa salah gue sih?
:keluh:
Ya ampun… Ferre Darjuna
Masa segininya sih gue cuma pengen kenal lo aja
Pengen deket lo aja, segininya?
Muka tadi itu..
Bukan muka tulus yang gue liat waktu di lab
Bukan……….
Gue ga mau nemuin muka kaya gitu lagi di pertemuan-pertemuan berikutnya (kalo ada)
GA BANGET TAU GA!!!!
9:26 pm
Gue dapet telpon beberapa jam yang lalu
Gue pikir dari siapa
Ternyata… Ferre…………………. (kaget kaget kaget!!)
Ditambah lagi waktu dia bilang dia udah di depan kosan
Lucu banget ga seh?
Yaudah akhirnya kita duduk di depan kamar flat gue (ogah ngajak dia masuk, ceritanya masih kesel gitu deh hehehe…)
Dan dia minta maaf sama gue
:jeng-jerejeng!!:
Tau karena apa?
Ferre bilang karena tadi nggak nganterin gue pulang
Isnt it so sweet???
Gue bilang ke dia kalo gue sempet kesel tadi
Tapi ga gue bilang kenapanya
i think he knows…
Ferre tau banyak tentang gue
Dia tau gue sama Nugra udah pacaran lama (walaupun lagi di ambang kehancuran) (pasti info ini dari Bima, sahabatnya yang juga temen satu organisasi Nugra)
Dia tau warna kesukaan gue
Dia tau gue sayang banget sama kucing
Dan dia tau berat badan gue 48kg
YAAIII!!!!
Gue harus seneng atau malah serem?
Dia ngumpulin foto2 gue yang ada di friendster, trus didesain pake photoshop gitu. And… TADAAA!! Jadi lucu banget
Niat banget ga sih??!
Apa dia ngelakuin ini ke semua cewek?
Apa dia selalu sebaik ini sama semua orang?
Boleh ga gue berharap sedikit… sedikiiiiit lebih?
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Hah?? Mau mutusin Nugra? Lagi?? Selama 2 tahun lebih lo sama dia, ini udah yang ke berapa kalinya lo ngomong gitu, Dan? Seratus? Seratus lima puluh??”.
“Tapi, Pep… kali ini gue bener-bener mau mutusin dia. Beneran…”
“Hhhhh… dulu juga lo bilang gitu. Lo mau mutusin dia. Tapi tetep aja, setiap dia berlaku manis sama lo, lo luluh lagi. Dari awal juga lo tau kalo gue ga gitu suka sama dia. Pru juga gitu. Tapi dia ga pernah ngomong aja. Jadi, sebenernya gue sih setuju banget-banget kalo lo mutusin dia. Tapi… kenapa lo tau-tau keukeuh mau mutusin dia?”
Daniish terdiam.
“Karena… Ferre?”, tanya Peppito hati-hati.
Daniish mengangkat wajahnya dan menatap Peppito tajam.
“Sorry… sorry… bukan maksud gue nuduh lo yang macem-macem… tapi… “
“Iya… gue ngerti”
Selama beberapa menit kemudian hanya keheningan yang tercipta. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
:Makrab, hari terakhir ospek, di depan api unggun:
Ahh… malam itu jadi begitu indah. Finally… semua maba bisa melihat senyumnya (secara selama ospek yang terdiri dari 4 rangkaian itu senyumnya mahal abesss. Ya iyalaaaahh… kan koordinator TATIB!). Saat dia tersenyum, seperti ada dengungan ribuan lebah di bumi perkemahan itu. Kalau diperjelas, dengungan itu akan terdengar seperti gumaman ‘ouhh… so sweet… lucu bangeeedh‘ yang keluar dari bibir semua maba cewek -dan mungkin beberapa cowok J- termasuk gue. Bukan… bukan… kalau gue bukan berupa gumaman, tapi umpatan. Damn!! So sweet! Senyum itu… Ternyata dia jauh-jauh lebih cakep kalo lagi senyum. Hmmm… What should I say then??
Gue ga pernah ngecengin dia, seperti cewek-cewek lain ngecengin akang-akang panitia ospek itu. Gue ga pernah histeris setiap dia lewat di depan gue, seperti cewek-cewek lain. Gue ga pernah menjadikan dia lamunan sehari-hari gue, -mungkin- seperti cewek-cewek lainnya. Sangat biasa. Tapi yang pasti… wajah dengan senyum itu, selalu terekam dalam benak dan pikiran gue, walau jarang terbangkitkan ke kesadaran.
Sampai suatu waktu…
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
God works in mysterious way. He created this life just like a broken puzzle. He spreads the pieces all over. We don’t know which piece we’re gonna get. And won’t have any idea what puzzle we will have in the end.
Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
Dheeary Garden
The place where i plant my ideas, my thoughts, my stories, my lines, my blah blah blahs…
Recent Comments