Posted by: dheelicioso on: September 4, 2008
“Kapan balik, Re?”
“Gue baru nyampe”, jawabnya pendek.
Karna sempat melirik ke balik kacamata hitam itu, mata Ferre sembab. Dia pake kacamata hitam karena hari ini terik sekali, karena emang nih anak gaya abis dari dahulu kala, atau karena nyembunyiin jejak tangisnya itu?
“Kabar lo gimana? Udah hampir 1 tahun kita ga ketemu. Sejak waktu__”
“Gue kerja di Kalimantan”, potong Ferre cepat.
“Dan bukan karena dia. Gue dapet panggilan untuk kerja di sana”, tambahnya lagi.
“Sorry, Bro… bukan maksud gue__”
“Fine. Ga apa-apa”
Lalu keduanya terdiam.
“Re…”
Ferre dan Karna serentak menoleh ke arah pintu samping, dari suara panggilan itu berasal. Terlihat Bima dan Gerry berjalan menuju mereka. Dasi hitam di kemeja abu-abu tua Gerry berantakan, begitu juga dengan rambutnya. Sedangkan Bima mengiringi di sampingnya dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
“I didn’t see you at the funeral“, cecar Gerry.
“I was just arrive half hour ago, Ge”
“Evelyn meninggal dari kemarin malam, tapi lo baru datang sesiang ini? Dan lo ga ikut ke pemakamannya!”
Ferre membuang muka dan menghembuskan napas keras-keras.
“Her mother just called me this morning“, ujarnya tenang.
“Ibunya juga ibu lo, Re! Itu ibu kalian”
“Ga usah dibahas, Ge”
“LO TUH EMANG KEBANGETAN YA!!”
Gerry merenggut kerah kemeja hitam Ferre lalu melancarkan pukulan ke muka Ferre. Kacamata Ferre terpental lepas dan ia terjatuh ke belakang. Bima langsung menarik Gerry dengan panik.
“Ge… udah! Apa-apaan sih lo?!”
Karna yang juga kaget melihat sahabatnya itu diserang tiba-tiba oleh sahabat sekaligus calon adik iparnya, buru-buru menghampiri Ferre.
“Lo ga apa-apa, Re?”
Ferre menggeleng sambil mengelus pipinya. Ia bangkit dan menghampiri Gerry. Karna memegangnya dari belakang.
“Gue tau lo sedih banget ditinggal Ev. Gue tau lo ga siap ditinggalin dengan cara kaya gini. Kalo lo pikir gue bertanggung jawab atas semua ini, fine! Tapi gue sama sekali ga tau tentang penyakitnya itu. Gue ngerti banget lo sedih. So do I. Biar gimanapun dia itu adek gue. She was the cure for the death of my mom. Walaupun sampe kapan juga gue ga akan pernah panggil mamanya dengan sebutan MAMA, tapi gue hormat sama dia. Dan gue ingetin lo, lo baru nyaris akan jadi adek ipar gue, so… masalah tante Sitta ini belum jadi urusan lo. Oke?! Sekarang tenangin diri lo dulu”
Ferre merapikan kemejanya.
“Kita ketemuan di café biasa jam4″, ujarnya sambil memungut kacamata hitamnya yang tergeletak di lantai kemudian beranjak meninggalkan Gerry, Karna dan Bima yang terdiam.
“Udah gue bilang kan, Bim… Keadaan Ferre pernah jauh lebih baik”
“Iya, Nyet… sebelum peristiwa itu…”
Recent Comments